Cermin - Komitmen Pernikahan.
April 15, 2008 10:44 am Khasanah Motivasi.Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun, kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit dan juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak, cobaan menerpa dengan diawali setelah istrinya melahirkan anak ke-empat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas Maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Pada suatu hari, ke empat anak Pak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak-anak mereka menikah dan bertempat tinggal dengan keluarganya masing-masing, Pak Suyatno memutuskan bahwa dialah yang merawat istrinya, sebab yang Pak Suyatno inginkan hanya satu, yaitu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak… bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”… dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “sudah yang ke-empat kalinya kami mengijinkan bapak untuk menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya. “Anak-anakku… Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi… tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, ia telah melahirkan kalian… (sejenak kerongkongannya tersekat), kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta, tidak satupun dapat menggantinya dengan apapun. Coba kalian tanya kepada ibumu apakah ia menginginkan keadaannya seperti ini ? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia dengan meninggalkan ibumu dalam keadaannya yang seperti sekarang ini ? Kalian menginginkan agar bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan ini untuk dirawat oleh orang lain ? Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit ?”
Sejenak, meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno… dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu…
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk dijadikan nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa… disaat itulah meledak tangis beliau beserta tamu yang hadir di studio (kebanyakan adalah kaum perempuan), karena tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita.
“Jikalau manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, sedangkan dia tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian) maka itu adalah kesia-siaan. Cinta itu adalah memberi. Saya percaya Tuhan-lah yang memilihkan istri saya ini untuk menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu ia sehat, ia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan hanya dengan matanya, dan ia memberi pada saya 4 orang anak yg lucu-lucu… Sekarang ia jatuh sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya, termasuk dikala sehat maupun sakit. Ketika ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi disaat ia sakit…”
Diceritakan kembali oleh Bapak Johanes.
Salam,
-hp-


Murni :
Date: July 9, 2008 @ 9:23 pm
Is it a true story? The story likes “believe it or not”. Dengan kondisi kehidupan yang mendewakan duniawi seperti sekarang ini. Sangat mustahil hal ini terjadi. Dan itu yang namanya “Laki-laki” (maaf, I know not all men are naughty)
Harry P :
Date: July 10, 2008 @ 9:42 am
Semua hal kembali kepada niat… “innamal ‘amalu binniat”.
Dan apapun masalah, kalau ditelaah mendalam kepada inti semua hal, adalah berserah dan pasrah totalitas kepada Illahi robbi, saya pun masih dalam tahapan belajar, menjalani semua kondisi hidup ini dengan berserah dan pasrah kepada-Nya, dengan tetap berusaha sesuai kemampuan dan bidang yang saya kuasai. Kepandaian, kekayaan (sekecil apapun), kemiskinan - kehinaan dan kepapaan, kekuasaan, dan apapun juga adalah bagian cobaan Illahi robbi kepada kita. Saya pikir sangat banyak cerita semacam ini, hanya, boleh jadi segelintir saja yang terkuak dan terwartakan dimasyarakat, sebab manusia-manusia berbudi luhur seperti Bapak Suyatno ini sangatlah jauh dari nilai pamrih dan ke-ria-an (melakukan hanya untuk dipuji orang).
Terima kasih, semoga bermanfaat.