Serigala-Serigala Lapar Berbulu Domba.

10:44 pm Catatan Kecil.

beast-wolf.jpegApa daya tarik sebagian besar stasiun televisi saat ini? Acara reality show kah? Ya, itu salah satu acara favorite kebanyakan penonton tv. Dan ada satu acara reality show yang cukup menarik perhatian saya, yaitu acara dimana para penontonnya diajak untuk melihat, mendengar dan merasakan betapa masih banyaknya saudara-saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Acara ini memperlihatkan secara gamblang kehidupan keseharian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mulai dari yang hidupnya harus diisi dengan mengkonsumsi makanan yang hampir basi, tidur beratapkan langit, dan sebagainya, pokoknya tergambarkan sesuatu hal yang memilukan hati ini ketika acara tersebut dilihat.

Bukan maksud saya untuk menyampaikan perihal tanyangan reality show tersebut di sini, akan tetapi betapa saya tidak habis pikirnya melihat nyata-nyata bahwa setiap harinya di harian umum media massa terwartakan peristiwa tidak pantas para panutan wakil rakyat di negeri ini. Atau begitu sadisnya orang berbuat yang tidak pantas kepada manusia hidup lainnya, ini tidak ubahnya bagai “manusia ada serigala bagi manusia lainnya”.

Banyaknya pengusaha kalau tidak mau disebut sebagai penipu yang bertopeng dan berdasi, telah membuat hutan kita yang dulunya begitu luas dan terisi oleh begitu banyak ragam dan macam hewan dan tumbuhan yang hidup di dalamnya, musnah hanya karena memenuhi keserakahan dan hausnya akan uang sang pengusaha. Belum lagi soal banyaknya ketidak adilan hukum bagi kaum terpinggir, kaum miskin, kaum buta hukum, buta pendidikan, dan masih banyak hal buruk lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu di sini.

Intinya negeri ini sudah begitu kusut masam akan berbagai macam masalah. Banyak juga kalangan yang bersimpati, berempati dan mengulurkan tangannya bahkan hartanya untuk membantu kaum lemah yang ada. Tapi hal ini tidak signifikan dengan begitu banyaknya “seriga-serigala lapar” yang setiap harinya bertebaran di negeri ini.

Begitu beringasnya mereka serigala-serigala lapar ini, sehingga dalam memenuhi hasrat laparnya mereka selalu berhias dengan topeng-topeng nan cantik lagi tampan dan rupawan. Berdasi, cerdas, berpendidikan cukup, bersosialisasi sangat bagus, bahkan mereka seringkali berlindung dalam topeng-topeng agama yang mereka anut masing-masing. Mereka-mereka itu adalah “serigala-serigala berbulu domba”.

Betapa kita dapat lihat, banyaknya orang-orang berperangai seperti serigala ini, tanpa belas dan kasih membangun kerajaan-kerajaan bisnisnya dengan berlandaskan azas kemanusiaan. Tapi nyatanya jauh api dari panggang, semua itu jauh dari apa yang mereka sampaikan kepada masyarakat. Sebab keuntungan dan uanglah tujuan utama mereka.

Saya bukan orang yang anti kemapanan, tapi menurut pendapat pribadi saya, bahwa kemapanan itu jauh lebih dekat kepada kemungkaran dan kenistaan. Meski ada ungkapan bahwa kemiskinan itu dekat sekali dengan kekufuran. Atau kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan.

Hal di atas boleh jadi benar adanya. Tetapi, akan lebih berbahaya bagi saya menghadapi orang yang cerdas, pandai, berkuasa, memiliki jejaring sosial yang tinggi, memiliki nilai tawar atau lobbying yang bagus, tapi berhati culas, busuk, penuh intrik, khianat, bagai “serigala berbulu domba” yang siap senantiasa menerkam lawan atau bahkan kawannya karena tidak mau tersaingi, tamak, dan sedemikian berinsting “membunuh”.

Kawan, marilah kita berkaca dan bercermin dengan menggunakan cermin yang memang baik, sadarilah bahwa, mungkin saja tanah suci itu sedemikian dekat oleh kita karena begitu mudahnya kita mengeluarkan uang untuk beramal, menyumbang, membeli tiket transportasi untuk mendatangi tanah-tanah suci, demi “mensucikan dan mencuci dosa-dosa” yang ada. Sementara semua hal itu didapat dengan tangan ini “berlumur darah dan keringat” orang lain, engkau korbankan orang lain hanya untuk memenuhi semua keinginan nistamu. Semua itu diperoleh dari hasil “memangsa orang lain”, apa guna semua itu kawan?

Tuhan Tidak Pernah Tidur, jangan engkau pikir bahwa engkau sudah sedemikian sucinya dan bersihnya, dengan berbalut “topeng-topeng emas”, dari tangan-tanganmu kau kucurkan donasi ini dan donasi itu. Tidak kawan, semua itu palsu dan nista adanya.

Ingatlah bahwa masih banyak saudara-saudaramu di luar sana yang tidur beratapkan langit, mandi dengan air sungai berpolusikan hasil limbah pabrikmu, makan dengan makanan basi simpanan kemarin, bekerja membanting tulang dengan hasil tidak lebih dari 1/3 harga sekaleng makanan binatang peliharaan kesayanganmu kawan.

Janganlah lagi kau bangun mal-mal yang kau katakan indah dan bernilai penyerap tenaga kerja besar, sementara tidak sedikit juga energi listrik yang akan terkuras di dalamnya. Jangan lagi kau papas hutan-hutan, ladang-ladang, sawah-sawah yang seharusnya menjadi lumbung-lumbung hidup dan “mal-mal” hidup bagi penghidupan kebanyakan masyarakat kecil di negeri ini. Sebab negeri ini dibangun berawal dari hamparan sawah, ladang, dan hutan yang indah dibandingkan mal-mal atau rumah-rumah membumbung tinggi ke langit.

Jangan kau jadikan dirimu bagai “serigala-serigala lapar berbulu domba”!

-hp-

One Response
  1. suyadi ady prastyo :

    Date: October 9, 2009 @ 12:20 pm

    verry-very good, setuju 2 2 2

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.